SEKILAS JALUR KERETA MATI SURI DI SELATAN BANDUNG
Siapa sangka Kabupaten Bandung pernah memiliki jalur kereta api yang membentang sepanjang 40km dari Cikudapateuh hingga Ciwidey. Jalur kereta api peninggalan Belanda ini awalnya ditujukan untuk angkutan hasil bumi namun kini jalur tersebut telah non-aktif.
![]() |
| Proses pembangunan Jembatan Rancagoong |
Latar Belakang
Jalur kereta api ini dibangun atas meningkatkan komoditas hasil bumi di bandung selatan yang membutuhkan moda transportasi yang lebih efisien untuk mengangkut hasil bumi ke Bandung maupun Batavia. Karena Pedati sudah tidak memungkinkan maka jalur trem ini dibangun sebagai solusi.
Pada tahun 1906 pemerintah kolonial Belanda merencanakan pembangunan jalur trem yang menderu ke Bandung selatan melalui Soreang atau saat itu masih bernama Kopo, Ciwidey, Leuweung Datar hingga Ciletuh. Proposal tersebut diajukan oleh RA Eekhout kepada pemerintah kolonial namun rencana tersebut batal direalisasikan akibat RA Eekhout meninggal dunia pada 1911. Namun trayek dari halte Cikudapateuh hingga Ciwidey tetap di bangun berdasarkan legalitas pembangunan
Wet 1 Juni 1918 Staatblad 1918 No. 345 (Bandung–Soreang) dan
Wet 18 Maret 1921 Staatblad 1921 No. 204 (Soreang–Ciwidey).
Dalam verslag Staatsspoorwegen jalur ini menghabiskan biaya sekitar 1.776.000,00 gulden atau jika kita rupiahkan berdasarkan nilai tukar kurs sekarang adalah sekitar Rp 3.000.000.000.000,00 rupiah. Jalur ini sendiri dibuka pada 13 Februari 1921, untuk segmen Bandung - Soreang dan 17 juni 1924 untuk segmen Ciwidey.
Jalur ini memiliki 5 Stasiun utama yakni Bandung, Dayeuhkolot, Banjaran, Soreang dan Ciwidey dengan 12 halte diantaranya: Cikudapateuh, Cibangkonglor, Cibangkong, Bojongsoang, Buahbatu, Kulalet, Pameungpeuk, Cangkuang, Citaliktik, Sadu, Cukanghaur dan Cisondari yang terbentang dijalur sepanjang 40 km.
Selain itu jalur ini memiliki banyak percabangan seperti percabangan menuju karees, percabangan menuju kavaleri yonkav, percabangan menuju Majalaya. Adapula rencana percabangan menuju Pangalengan dari Banjaran namun jalur ini sendiri tidak pernah dibangun oleh Belanda dengan alasan pembiayaan.
Terdapat ikon di jalur kereta api ini yakni 4 jembatan besar yang berdiri kokoh diatas sungai Citarum dan Ciwidey yakni Jembatan irene, Sadu, Rancagoong dan Cikabuyutan. Jembatan irene terletak tak jauh dari stasiun Dayeuhkolot dan memiliki panjang 100 meter berdiri diatas sungai Citarum, Jembatan Sadu memiliki panjang 60 meter berdiri diatas sungai Ciwidey, Jembatan Rancagoong memiliki panjang 150 meter dan bediri diatas sungai Ciwidey khusus untuk jembatan ini memiliki rangka ganda yakni beton dan rangka baja, dan terakhir jembatan Cikabuyutan memiliki panjang 100 meter dan berdiri di atas sungai Ciwidey.
3 dari jembatan diatas yakni Sadu, Rancagoong dan Cikabuyutan memiliki rangka dengan rancangan yang sama karena berasal dari jembatan lama Citarum di Karawang. Penggunaan struktur jembatan lama ini dikarenakan untuk menekan biaya konstruksi karena pada saat itu harga besi yang mahal pasca Perang Dunia ke 1.
Pada 1972 sebuah kereta barang melintas di petak halte Cukanghaur dan anjlok lalu terguling akibat rel yang sudah tua. Akibatnya masinis dan kepala stasiun Ciwidey tewas ditempat serta angkutan yang merupakan gelondong kayu berhamburan ke sawah. Akibat peristiwa ini segmen Soreang Ciwidey perlahan ditutup namun hal ini menyusul juga untuk segmen Bandung - Soreang dikarenakan efisiensi PJKA akibat penumpang gelap dan kerugian akibat kalah bersaing dengan transportasi umum.
Reaktivasi
Reaktivasi jalur ini berkali kali telah direncanakan salah satu rencana yang dikemukakan adalah saat zaman gubernur Ridwan Kamil yang membuat Direktur PT KAI saat itu Edi Sukmoro meninjau langsung jalur ini dan melakukan pemetaan dan Uji kelayakan namun reaktivasi jalur ini harus kalah akibat jalur Garut didahulukan terlebih dahulu.
Pada saat penjabat gubernur Bey machmudin juga mengajukan reaktivasi untuk jalur ini bersamaan dengan jalur Banjar-Cijulang namun PT KAI dan DJKA mesti mengkaji ulang usulan ini dengan alasan fungsi dan pasar. Dan dimasa sekarang yakni kegubernuran Dedi Mulyadi juga memiliki rencana menghidupkan jalur kereta api ini dan beberapa jalur kereta mati lainya di Jawabarat.
Besar harapan untuk jalur kereta api ini aktif kembali karena mesti dapat mendongkrak ekonomi, distribusi dan juga pariwisata Ciwidey dan kabupaten Bandung diharapkan mulai 2026 proyek reaktivasi dapat dieksekusi oleh kemenhub dan pemerintah setempat.


Komentar
Posting Komentar